Selasa, 25 September 2012

syaratnya adalah coklat manis



Belajar mencintai tanpa syarat memang tak semudah saat aku mengatakannya..
‘kau harus seperti ini’, ‘kau tak boleh seperti itu’,’ jangan ini’, dan ‘harus seperti ini’.

Kata-kata yang sangat ‘ga bgt’ menurutku.  Tapi nyatanya harus dihadapi.
Menjadi wanita yang bisa menerima semua kata-kata itu  memang terasa berat, tapi tidak menutup kemungkinan aku bisa melakukannya.
Aku telah mengatakannya, bahwa kau bagian dari hidupku sekarang,
dan aku harus menerima syarat cinta yang kau tawarkan.

Dan entah sampai kapan aku wanita yang selalu bisa menerima syarat itu, atau itu akan menjadi sebuah kebiasaan manis dalam hidupku.
Masih kah aku mencintaimu?
Aku tidak pernah mengharapkan ada alasan lain kenapa aku tidak mencintaimu lagi.
Bukan karena kata-kata itu, atau hal lain..

Tapi alangkah baiknya jika syarat cinta yang kau tawarkan berbentuk coklat manis.
Aku akan menikmatinya setiap saat.
Dan alangkah menyenangkannya syarat itu.

Sekarang waktunya kita hidup bersama, menikmati coklat manis yang saling kita tawarkan..

Minggu, 16 September 2012

cerita si Comeng

Teringat kembali cerita saat-saat bersama Comeng. Comeng itu abang ke duaku, dia memiliki sifat yang keras, muka yang sangar, badan seperti bodigat, tetapi lembut terhadap wanita.
Dia selalu menjadikan aku alatnya untuk menggoda wanita, juga kalau sedang berantem dengan pacarnya, juga alat untuk mengembalikan dia supaya bisa pacaran lagi, jika diputuskan oleh pacarnya. Dan aku pun selalu dengan senang hati melakukan apapun yang dia suruh. Dulu comeng punya pacar, nama kakak itu Sivi, dia seorang tata rias yang handal. Wajahnya cantik, badannya perfect, senyumnya manis, sedikit agak cerewet seh, tapi sayangnya ibuku tidak pernah suka dengan dia. Akupun sebenernya tidak menyukainya, tapi karena abangku suka, yah mau ga mau harus menyukainya juga.
suatu ketika mereka pun berantem, yang aku sendiri pun tidak tahu masalahnya. Comeng langsung menghampiri adek kesayangannya
comeng : "dek temuin kak Sivi gih"

aku : "ngapain?"
comeng : "abang lagi berantem ama kak Sivi, dia ga percaya ama abang"
Aku : "trus apa hubungannya dengan aku?"

comeng : "bilang ke kak Sivi semua hal-hal yang baik tentang abang, supaya kak Sivi mau baikan lg ama abang"
Walaupun aku tidak pernah tahu apa saja tentang Comeng yang baik, aku tetap melaksanakan tugas yang dia berikan. Dan aku pun selalu belajar mengarang cerita.
Singkat cerita mereka pun akhirnya balikan.


Dulu aku tidak pernah sama sekali di ijinkan untuk dekat dengan lelaki manapun, siapapun, dan sampai sekarang. Dan aku bodohnya selalu mengikuti peraturannya, karena aku takut padanya.
Tapi selalu banyak jalan ke Roma, dan beberapa kali aku pacaran tanpa di ketahui oleh comeng.
Tapi kalau dia tahu, mampus lah aku.

Masa-masa kecilku dengannya masa yang sangat indah menurutku. Aku masih ingat ketika hanya comenglah yang jadi teman bermainku, mengejarku ketika lari karena tidak mau makan obat, rebutan makanan, rebutan mainan, rebutan perhatian ibu, dan banyak lagi. Dia selalu menggendongku kemanapun, menggendongku saat dia senang mau pun ketika dia sedang jengkel karena ulahku. katanya "aku adalah kekuatannya", dan aku pun dmikian.


Tapi aku tidak pernah tahu itu sampai kapan, karena sekarang dia telah berubah. Tidak seperti Comeng yang aku kenal dulu.